Apakah Politik Masih Memiliki Hakikatnya?

By | March 23, 2015

Hakikat, banyak orang sangat Familiar dengan kata yang satu ini. Di Perguruan tinggi hampir semua dosen dan mahasiswa berhadapan dengan istilah hakikat. Namun tidak semua mahasiswa dan dosen memahami  pengertian “hakikat” secara baik. Kata yang satu ini sangat gampang diucapkan dan sangat enak di dengar. Namun penggunaannya sering salah, alias tidak cocok pemakaiannya dengan yang seharusnya. Entah nomenklatur yang memaknainya begitu berbelit hingga lupa terhadap esensinya, atau kerap kesalahan tafsir ini menimbulkan diskursus. Akibatnya makna yang dikandungnya jadi kabur, bias, bahkan masuk kedalam konsep yang yang lain. Lantas kemudian hal apa yang membuatnya menjadi kabur?

Sesuatu yang ada di dunia ini pada dasarnya memiliki hakikat. Secara filosofis manusia memiliki hakikat, Agama dapat dinamakan agama karena memiliki hakikat. Bahkan adanya Sejarawan juga karena memiliki hakikat, begitupun dengan politik. Pengertian dari politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Karena politik yaitu: 1. Usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles). 2. Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. 3. Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. 4. Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik.

Dalam konteks memahami politik perlu dipahami beberapa kunci, antara lain kekuasaan politik, legitimasi, sistem politik, perilaku politik, partisipasi politik, proses politik, dan juga tidak kalah pentingnya untuk mengetahui seluk beluk tentang partai politik. Bila seseorang, suatu organisasi, atau suatu partai politik bisa mengorganisasi sehingga berbagai badan negara yang relevan misalnya membuat aturan yang melarang atau mewajibkan suatu hal atau perkara maka mereka mempunyai kekuasaan politik. Jadi Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.

Akan tetapi permasalahan yang terasa saat ini, apakah Korupsi, Kolusi dan nepotisme adalah seni di dalam berpolitik. Karena untuk meraih kekuasaan secara konstitusional atau nonknstitusional Inilah babak demi babak kerusakan yang terkuak. Sistem demokrasi yang seharusnya mencerminkan dan menjamin kedaulatan rakyat dan jaminan atas kebebasan umum malah meniscayakan keculasan dan manipulasi kekuasaan atas nama rakyat. Tapi sebenarnya untuk kepentingan segelintir orang dan kelompok yang berkuasa. Hari ini yang tumbuh tidak lebih dari “demokrasi omong kosong”. Rakyat di kubangan masalah sebagai korban, sementara para penguasa dan politikusnya di meja kekuasaan mentransaksikan kepentingan-kepentingan pribadi dan cari untung atas nama rakyat. Apakah ini juga sebagian dari seni berpolitik? Siapa tahu.

Hampir setiap hari media massa di negeri ini setiap hari membicarakan masalah politik. Kosa kata politik sudah tertanam kuat dalam benak kebanyakan anak negeri ini. Politik pun tampaknya juga sulit dibedakan dengan kiat, trik, cara, jalan, bahkan kecurangan dalam mencapai suatu tujuan. Para bandar judi Togel mesti berpolitik supaya bisa tetap dapat menang terus; meraup duit para pemasang angka. Pemilik warnet yang berpolitik dengan ‘orang dalam’ di PLN. Tukang Parkir yang berpolitik dengan polisi demi akseptasi atas ‘daerah kekuasaannya’. Begitupun penjual DVD/CD bajakan, penjual DVD porno yang harus berpolitik agar tidak ditangkap polisi nantinya.

Para tukang ojek, tukang becak, supir angkutan umum sampai politisi pun harus berpolitik agar tetap eksis dan dipandang keberadaan mereka. Contoh lainnya adalah Klub Sepak bola yang tidak memperoleh kemenangan, bisa dituding tak berpolitik oleh asosiasi liga sepak bola, begitupun pelaku pekerjaan dan profesi lainnya. Dengan kata lain suntik bisa menang maka harus berpolitik. Yang kalah adalah kalah dalam segala hal karena mereka adalah korban dari politisasi. The winner takes all.

Apakah yang ditampilkan itu adalah politik pada sejatinya? Apabila yang ditampilkan bukan kesejatian politik, apakah hakekat dari politik itu? Hakekat menurut Jalius HR adalah apa yang membuat sesuatu terwujud atau mengacu kepada faktor utama yang lebih fundamental. Apa yang membuat politik itu mewujud dan dari masa ke masa menjadi faktor yang fundamental? Politik ada untuk menghadirkan kesejahteraan rakyat. Politik dihadirkan ditengah masyarakat untuk mencapai keadilan. Hakekat politik dan adalah kesejahteraan rakyat dan keadilan.

Menurut Jalius HR, Suatu  hakikat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dibagi dalam bereksistensi. Semua faktor utama hakikat itu terintegrasi atau menyatu dalam satu sistem. Dengan kata lain hakekat mengacu kepada hal-hal yang lebih permanen yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi. Juga tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu. Suatu hakikat lebih mantap dan stabil serta tidak mendatangkan sifat yang berubah-rubah, tidak parsial ataupun yang bersifat fenomenal. Maka yang namanya manusia (an-nas) adalah makhluk Tuhan yang memiliki “jiwa dan raga”.

Keharmonisan ikatan (integritas) jiwa dan raga tersebut menjadikan manusia dapat bereksistensi (ber-ada). Hakikat dapat menjalankan fungsi-fungsi kemanusiaan dalam berbagai bentuk kegiatan. Pada  ” hakekat ”  itu  terletak (terdapat) hal-hal lain yang menjadi atribut manusia. Jadi jika disangkut pautkan dengan politik, Politik itu adalah alat yang diperkuat dengan sistem namun pada dasarnya akan kembali lagi kepada manusia. Berbeda dengan manusia yang hakikatnya stabil dan tidak dapat diubah, politik itu sifatnya lebih kepada ‘siapa yang bekerja untuk politik’ atau ‘politik itu untuk siapa’.

Jika mengatakan hakikat politik sebagai usaha untuk mewujudkan kebaikan bersama  misalnya, maka hakikat-nya akan  hilang jika semisal mendahulukan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum. Demikian pula halnya jika seorang pemimpin menjual negaranya sendiri dengan mengatas namakan rakyat, pada saat itu juga hilanglah hakikat-nya. Sejatinya hakikat politik tidak demikian. Hakikat politik adalah membuat warga negaranya bahagia. Tolak ukur bahagia adalah kesejahteraan, keamanan dan ketentraman. Karena tujuan berpolitik bukan semata meraih kekuasaan, tapi memastikan kekuasaan itu digunakan untuk kebajikan dan kebahagian semua warga negara.

 

 

 

 

Referensi

  • Hasibuan, Jalius. “Pengertian Hakikat.” http://jalius12.wordpress.com/2010/12/06/pengertian-hakekat/ (diakses tanggal 17 April 2013)
  • Pengertian Politik, (http://id.wikipedia.org/wiki/Politik)

One thought on “Apakah Politik Masih Memiliki Hakikatnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *