Memaknai Kemerdekaan Berdasarkan Wawasan Kebangsaan, Bukan Hanya Selebrasi Belaka

By | September 7, 2015

Nilai wawasan kebangsaan lahir ketika awal mula digagas dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan dari Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Jepang. Perjuangan bangsa Indonesia yang pada waktu itu masih bersifat lokal dinilai tidak berhasil karena di dalam pergerakan dan perjuangan hanya bersifat partisi dan belum adanya paham persatuan dan kesatuan, sedangkan kaum kolonial terus menggunakan politik devide et impera (politik pecah belah). Harus kita akui bahwa kebangkitan nasional menjadi titik balik sejarah perjalanan bangsa dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, diperjelas ditandai dengan lahirnya gerakan Boedi Oetomo 20 Mei 1908 dengan semangat kebangsaan (nasionalisme). Disitulah makna nasionalisme semakin subur dan melekat dalam hati nurani seluruh elemen bangsa yang kemudian menjadi sebuah rekonstruksi sosial untuk mengintegrasikan seluruh elemen bangsa dalam bingkai kebhinnekaan Indonesia.

Setelah 70 tahun kita merdeka, kita dituntut untuk mempertahankan nasionalisme dan patriotisme anak muda agar tetap tertanam dalam hati nurani mereka. Sehingga kita harus mempertanyakan, apakah masih cukup kuat basis yang dibangun oleh para pendiri bangsa melalui kebangkitan nasional serta komitmen mereka pada tahun 1928 dengan sumpah pemuda? Masihkah nasionalisme yang dikobarkan para pejuang kemerdekaan tetap tertanam dan berkelanjutan sampai sekarang? Atau nasionalisme pemuda dahulu dinilai sudah usang dan tergilas oleh jaman sehingga dalam memaknainya dinilai terlalu retoris, sehingga apa diperlukan konsensus baru untuk wacana nasionalisme baru dalam tindak aplikatif di jaman sekarang?

Sumpah Pemuda
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

 

Tulisan saya mencoba menelusuri sejauh mana signifikansi wacana nasionalisme memaknai kemerdekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wawasan kebangsaan memiliki daya tarik karena di era globalisasi sekarang kobaran semangat nasionalisme generasi muda sangat lantang, namun tidak selaras dengan tindakan nyatanya. Ironi bukan? Lunturnya aksi nasionalisme generasi muda bisa saja menjadi ancaman terhadap terkikisnya nilai-nilai patriotisme yang menjadi landasan kecintaan kita terhadap bumi pertiwi tercinta. Lebih ironi lagi adalah pemuda di Indonesia memaknai kemerdekaan hanya dengan selebrasi belaka layaknya hari valentine, halloween dan April Fool’s Day (April Mop) yang dimana cuma menyerap namun tidak mengetahui maknanya, hanya terkena dampak secara global kemudian tidak ada resolusi yang berarti dan berbenah ke arah yang lebih baik.

Membumikan wacana nasionalisme merupakan satu Keniscayaan yang sejatinya memiliki kesadaran pribadi untuk membangun perubahan dan gerakan yang bisa memberikan kebanggaan terhadap negara, semangat pantang mundur untuk pembangunan kepada kader-kader bangsa, khususnya generasi muda yang kelak menjadi penerus estafet kepemimpinan bangsa ke depan. Namun di Indonesia, nasionalisme terasa hambar apabila tidak berdampingan selaras dengan semangat kebangsaan, ibarat ­–maaf– ‘buang air besar tanpa cebok’ yang dimana terasa ganjil dan kurang. Wawasan kebangsaan sendiri terdiri dari dua suku kata yaitu ‘Wawasan’ dan ‘Kebangsaan’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) dinyatakan bahwa secara etimologis istilah ‘wawasan’ berarti: (1) hasil mewawas, tinjauan, pandangan dan dapat juga berarti (2) konsepsi cara pandang. Wawasan Kebangsaan sangat identik dengan Wawasan Nusantara yaitu cara pandang bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai kesatuan politik, sosial budaya, ekonomi dan pertahanan keamanan (Suhady dan Sinaga, 2006).

Pada titik inilah kemajemukan bangsa Indonesia secara faktual dapat diintegrasikan dalam satu kesatuan, senasib dan seperjuangan. Namun tidak menutup kemungkinan kemajemukan tersebut dapat menimbulkan konflik yang berkepanjangan antar-golongan. Namun kehawatiran ini sejatinya tidak perlu disesalkan secara mendalam. Kita tahu bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berperadaban dan mempunyai masa kejayaan di masa lampau. Pada konteks awal Negara Kesatuan Republik Indonesia (selanjutnya disingkat menjadi NKRI) lahir, kepentingan untuk merdeka juga menjadi implikasi yang fundamental pemersatu bangsa Indonesia. Sehingga semangat kebangsaan yang berjalan selaras dengan nasionalisme mampu menghilangkan arogansi kesukuan yang menimbulkan konflik antar-daerah di Indonesia. Dengan kata lain, konsep dan elemen dasar wawasan kebangsaan berdasar pada kemajemukan dan toleransi.

Untuk contoh mudahnya lihat perseteruan Suku Sambas di Kalimantan dan Suku Madura. Kedua suku sempat dihadapkan pada satu pertentangan dan pertikaian yang cukup akut sehingga sering kali menimbulkan korban nyawa yang tak terhindarkan. Semua ini di latar belakangi dari ego kesukuan yang terlalu fanatik dan gelap mata. Motif lainnya juga karena ada kecemburuan sosial –ekonomi, namun alasan menjadi irasional ketika isu rasial di sangkut-pautkan. Sekali lagi masalah mampu terelakan dengan dialektika kebangsaan ketika di mediasi dengan dialog. Oleh karenanya Semangat kebangsaan ini mampu menjadi jalan alternatif untuk meredam potensi-potensi konflik yang rentan terjadi di Indonesia.

Kendati demikian, persoalan primordial menyangkut disintegrasi bangsa sering muncul ke permukaan. Sebut saja Gerakan Aceh Merdeka (GAM) –pada masa itu– yang berkeinginan lepas dari NKRI yang berimplikasi menimbulkan konflik kekerasan. Kemudian NII KW IX –yang konspirasinya– didalangi BIN untuk menimbulkan stigma buruk terhadap Islam atas nilai-nilai Syariah dan konsep negara islam dengan melakukan teror terhadap penganut Nasrani, tidak lama ini juga Pembakaran Masjid di Tolikara yang didalangi GIDI juga menimbulkan krisis kepercayaan antara sesama bangsa yang mempertanyakan keberadaan toleransi. Ada pula fenomena penyebar berita berita palsu (hoax) di media sosial yang membuat seolah-olah apa yang mereka miliki atau mereka ciptakan adalah sebuah kenyataan untuk mempengaruhi atau mendapat keuntungan buat mereka dan menimbulkan kerugian bagi individu atau kelompok tertentu dimana kebenarannya pun masih dipertanyakan. Kemudian hal ini menimbulkan pertanyaan besar bagi saya, apa motifnya? Kemudian apa tujuannya?

Lanjut nanti ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *